Mengembalikan Peradaban Gowa dan Kejayaannya

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Gowa, LiraNews — Mengutip dari Wikipedia, Kabupaten Gowa yang dulunya dikenal sebagai Wilayah Kerajaan, merupakan kerajaan maritim yang besar pengaruhnya di perairan Nusantara. Bahkan dari kerajaan ini juga muncul nama pahlawan nasional yang bergelar Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI.

Sayangnya, sebagai kerajaan yang dulu tersohor, Gowa tidak lagi berjaya, kerajaan ini malah memberikan warisan terbesarnya, yaitu Pelabuhan Makassar dan Pasar Pabaeng-baeng.

Beranjak dari situlah, Yayasan Budaya Bugis Makassar mencoba merangkul seluruh pemerhati budaya utamanya masyarakat Gowa untuk menggelar Dialog Budaya dengan melibatkan seluruh stakeholder untuk membicarakan kemasan Gowa dalam rangka “Menangkap Pesan Leluhur”.

Salah satu inisiator Ahmad Pidris Zain saat ditemui mengatakan, dialog tersebut akan dilaksanakan untuk membicarakan tentang pengembalian adat istiadat di Gowa. Dengan harapan, kata Pidris, ada satu visi yang sama yang endingnya mengembalikan peradaban Gowa dan kejayaannya.

“Karena ini satu pesan yang dilakukan oleh leluhur secara turun temurun dan peluang itu ada sekarang”, ungkap Dg. Sisila sapaan akrab Ahmad Pidris, Di Cafe Tosil, Jl. Tum Abd Rasak, Senin (26/8/2019).

Yayasan Budaya Bugis-Makassar dan Panitia Pelaksana Dialog Budaya usai melaksakan rapat kepanitiaan, Di Cafe Tosil
Lebih lanjut Pidris menegaskan, Wattunna mi. Terlebih sekarang peradaban Gowa sangat jauh dari potensi yang ada padahal Gowa punya segalanya. Baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

“Kami mau Gowa lebih dikenal diluar dengan ciri khasnya, dengan begitu kita bisa mendatangkan wisatawan dan investor. Poterangi Adatka ri Biasanna. (Mengembalikan Adat Sebagaimana Mestinya:Red)”, pungkasnya.

Menurutnya dengan mengembalikan adat Gowa sebagai Kota Adat, diyakini akan ada sirkulasi ekonomi yang juga punya dampak pada masyarakat Gowa.

Olehnya, impian besar itu dimulai dengan menggelar dialog. Rencananya dialog ini dibagi tiga sesi, yakni:

1. Dialog Budaya, 28 September 2019 tema “Menangkap Pesan Leluhur Gowa”.

2. Simposium Budaya, 26 Oktober 2019, tema “Meretas Pesan Leluhur Gowa”.

3. Semiloka Budaya, 23 November 2019, tema “Implementasi Pesan Leluhur Gowa”. LN-RED

Wed Aug 28 , 2019
Jakarta, LiraNews – Presiden Joko Widodo telah menetapkan Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota pengganti DKI Jakarta. Komite Pedagang Pasar (KPP) pun mengingatkan agar presiden tak lupa keberadaan pasar tradisional di Ibukota Baru Harus Jadi Tred Model bahkan Center Model pasar pasar lainnya se Indonesia. “Kami ingin di ibukota yang baru […]